Skip to main content

khutbah jum'ah rezeqi yang halal

الحَمْدُ للهِ المُؤَمِّلِ لِكَشْفِ الشَّدَا ئِدِ ، المُفَصِّلِ بِتُحَفِ النِّعَمِ وَالفَوَائِدِ ، الَّذِى أَكْرَمَنَا بِتَوحِيْدِ هِ ، وَجَعَلَنَا مِنْ خَيْرِ عَبِيْدِهِ ، أَحْمَدُهُ حَمْداً قَاضِيًا لِحَقِّهِ ، ضَامِنًا لِرِزْقِهِ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، كَلِمَةٌ أُوْمِنُ بِهَا إِقْرَارًا ، وَأَشْهَدُ بِهَا إِعْلَانًا وَإِسْرَارًا ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ القَائِمُ بِحُجَّجِهِ ، وَرَسُولُهُ الدَّاعِى اِلَى مَنْهَجِهِ ، اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَعَلَى اَلِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ : فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ ، اتَّقُوا اللهَ ، اَعْذِبُوْا أَلْسِنَكُمْ بِحَقَائِقِ الذِّكْرِ ، وَذَلِّلُوا أَسْمَاعَكُمْ لِمَوَاقِعِ الزَّجْرِ ، وَأَنِيْرُوا قُلُوبَكُمْ بِمَاصَبِيْحِ الفِكْرِ ، وَأَكْبِرُوا نُفُوسَكُمْ عَنْ صَرَمَاتِ الكِبْرِ ، فَإِنَّكُمْ فِى الدًّنْيَا عَلَى رَحِيلٍ عَجِلٍ ، وَمِنَ المَوتَ عَلَى خَطْبٍ فَظِيعٍ شَامِلٍ ، قَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا # وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيثُ لاَ يَحْتَسِبُ . 





Sidang jum’ah rohimakumulloh 

Marilah kita takut kepada Alloh SWT , taku yang bisa membawa kemulyaan kita didunia hingga kelak diakhirat , serta takut yang bisa menjaga badan kita dari kemasukan makanan dan minuman yang tidak bersih dan tidak halal , yang mana bisa menimbulkan kemauan untuk berlaku yang tidak benar.

baca juga : khutbah jum'ah ( ikhlas )

Saudaraku jama’ah jum’ah yang berbahagia

Ketika kita perhatikan dan kita teliti satu persatu  bahwasanya  manusia itu bisa kelihatan jelas, bahwa manusia yang hidup di dunia ini membutuhkan makanan ,minuman ,pakaian dan kebutuhan yang lain ,yang menjadi syaratnya hidup. Memang sampun jadi ketentuan yang tidak bisa dipungkiri lagi, sebab tanpa makan dan minum manusia pasti mati, tanpa berpakaian manusia kurang pantas dipandang ,sebab soal sandang pangan memang menjadi masalah yang hangat dan memang menjadi tujuan dikalangan manusia di sepanjang masa .
Sejatinya ketika kita lihat sebagian besar dari manusia seperti dibuat mainan dengan sandang pangan mereka .saat sandang pangan mereka dipasar manusia sama berlari lari menuju pasar,saat sandang pangan di sawah manusia sama berlari menuju sawah, saat sandang pangan di gunung manusia sama berlari menuju gunung dan seterusnya .
Manusia mencari sandang pangan dengan kekayaan ,tenaga dan fikiran ,tetapi yang dihasilkan tidak ada yang sama . ada yang hasilnya sedikit meskipun usaha dengan tenaga yang banyak,lan fikiran yang banyak ,meskipun bertahun tahun bekerja. Ada yang hasilnya banyak meskipun bekerja masih berbulan bulan . yang seperti ini adalah bahwasanya rizqi itu tidak bisa di idam idamkan karna soal rizqi atau soal sandang pangan tidak bisa ditentukan dengan ikhtiyar dan kekuatan manusia itu sendiri ,tetapi soal sandang pangan itu adalah hubungan antara qudro dan iradoh-NYA Alloh SWT.buktinya ketika sandang pangan diidam idamkan atau dicari cari maka kadang kadang mala tidak berlari  dan ketika tidak diidam idamkan atau tidak dicari cari kadang kadang mala datang sendiri. Seperti halnya manusia yang dulunya kaya tiba tiba mendadak jatuh miskin,dan ada juga manusia yang dulunya miskin tiba tiba menjadi kaya dan ada juga yang dulunya miskin sampai saat ini tetap miskin dan ada juga yang dulunya kaya raya sampai saat ini tetap kaya. Yang seperti ini yang membuktikan bahwa sandang pangan adalah hanya tergantung qudra dan iradoh-NYA Alloh SWT tidak bisa hanya diukur lewat usahanya manusia tersebut.

Para hadirin jama’ah jum’ah yang berbahagia

baca juga : khutbah ke-2 ( do'a khutbah )

Ada banyak ragam manusi ketika mencari sandang pangan ,ada yang mencari sandang pangan lewat bekerja kasar ,ada yang lewat pekerjaan yang halus dan ada juga yang lewat bekerja yang serong seperti, berbohong,korupsi,ngerampok dan masih banyak perkara yang lain.
Para saudaraku sekalian Alloh SWT sudah memberi tuntunan didalam mencari sandang pangan ,yang supaya sandang pangan tersebut bisa bermanfaat dan bisa membawa kemulyaan manusia di dunia hinggah sampai di akhirat. Seperti yang sudah ada dalam al qur an :

يَآ أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِى الأَرْضِ حَلَالاً طَيِّبًا وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ، إِنَّهُ لَكُمْ عَدُ وٌّ مُبِينٌ .

Wahai manusia makanlah kamu semua yang halal dan yang baik dari apa yang terdapat dibumi dan janganlah kamu mengikuti langkah syaitan,karna sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yangnnyata bagimu.(al-baqoroh 168).

Lebih jelasnya para hadirin ahli jum’ah rohimakumulloh

Alloh SWT memberi tuntunan agar kita para manusia dalam mencari bekal hidup yang halal, jangan sampai ketipu sama ajakan hawa nafsu dan syaitan . karena hawa nafsu dan syaitan ,bisa mempengarui perilaku seseorang,mendorong manusia untuk mencari sandang pangan dengan cara yang tidak halal.

Para saudaraku jama’ah jum’ah yang dimulyakan Alloh SWT

Uang satu rupiah yang halal adalah lebih berharga menurut Alloh SWT daripada seribu rupiah yang tidak halal. Sebab uang yang tidak halal bisa mengotori jiwa dan pribadi manusia , dan bisa menjadikan redupnya cahaya hati, lebih lebih uang  yang berupa uang serobotan ,uang yang dihasilkan dengan cara yang tidak benar atau tidak wajar dan mengambil hak orang lain dengan paksa . juga sebaliknya ketika uang adalah uang yang halal tentu bisa membangun jasmani dan rohani yang suci.
Memang uang adalah sangat besar pengaruhnya didalam jiwa manusia . oleh karnanya mari kita sama sama membudidayakan mencari sandang pangan yang halal,yang supaya kita memperoleh jasmani yang suci dan rohani yang suci, yang mana akhirnya bisa memperoleh hati yang bersinar terang  untuk mengetahui dzat yang suci, dan akhirnya memperoleh tempat yang suci ,yang berupa surga didalam akhirat nanti. Amin

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ : مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ، وَمَنْ أَسَآءَ فَعَلَيهَا ، وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ للْعَبِيْدِ .
بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى القُرْاَنِ العَظِيْمِ ، وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِالآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ ، وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ